Oleh: Didi Sukardi
Defakto /Opini – Ada satu hal menarik dari demokrasi desa: semua orang saling kenal. Bahkan kadang terlalu kenal. Jika bukan tetangga, ya saudara. Kalau bukan saudara dekat, minimal masih bisa ditarik garis hubungan sampai ke acara hajatan keluarga yang sama.
Maka jangan heran jika setiap musim pemilihan kepala desa, suasana yang muncul kadang terasa seperti reuni keluarga besar yang kebetulan memakai kotak suara.
Di beberapa desa di Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor, percakapan menjelang Pilkades kadang tidak jauh dari daftar nama yang itu-itu saja.
Jika bukan petahana, biasanya masih kerabatnya. Kalau bukan kerabat dekat, setidaknya masih orang yang sering duduk satu meja dalam acara keluarga besar. Dalam situasi seperti ini, demokrasi desa terasa sedikit unik: pilihan pemimpin sering kali berputar dalam lingkar yang sama.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan hubungan keluarga. Desa memang dibangun dari ikatan sosial yang kuat. Namun ketika kursi kepemimpinan terlalu lama berada dalam satu orbit keluarga, muncul kesan bahwa Pilkades tidak jauh berbeda dari pergantian giliran dalam lingkar kekerabatan.
Seolah-olah demokrasi berjalan, tetapi jalurnya sudah digambar sebelumnya dalam pohon silsilah keluarga.
Padahal desa hari ini menghadapi tantangan yang tidak kecil. Dana desa yang besar menuntut pengelolaan yang transparan. Pembangunan membutuhkan gagasan segar. Warga juga semakin kritis terhadap cara desa dikelola.
Dalam kondisi seperti itu, Pilkades semestinya menjadi ruang terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan keberanian membawa perubahan. Bukan sekadar ajang menjaga agar kursi kepemimpinan tetap berputar dalam lingkar yang sama.
Demokrasi desa akan terasa lebih sehat jika kontestasi di dalamnya benar-benar menghadirkan pilihan yang beragam: tokoh muda, aktivis desa, pengusaha lokal, atau siapa pun yang memiliki gagasan dan integritas.
Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan warga desa. Karena dalam bilik suara, setiap orang memiliki hak yang sama untuk menentukan masa depan desanya, dan tidak ada salahnya jika setelah itu petahana kembali tampil menjadi sangat pemenang.
Hanya saja, mungkin pertanyaan sederhana yang patut direnungkan menjelang Pilkades adalah ini: apakah kita sedang memilih pemimpin terbaik untuk desa, atau sekadar memastikan bahwa kursi itu tetap berada di sekitar meja makan keluarga yang sama? (***)