Defakto /Editorial – Tahun baru tidak diciptakan untuk mereka yang malas berpikir dan enggan bergerak. Pergantian angka hanyalah penanda waktu, bukan jaminan perubahan. Jika pola kerja, keberanian, dan integritas masih sama seperti tahun lalu, maka jangan sebut ini tahun baru. Ini hanya tahun lama yang diperpanjang.
Di ruang redaksi, tahun baru semestinya berarti alarm keras bagi awak media. Alarm bahwa berita tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dicari, digali, diuji, dan dipertanggungjawabkan. Wartawan yang hanya menunggu rilis, mengutip pernyataan aman, dan menghindari lapangan, sejatinya sedang membiarkan kebenaran terkubur perlahan.
Tahun lalu telah memberi cukup pelajaran: kekuasaan makin lihai menyembunyikan fakta, dan kepentingan makin agresif membungkam kritik. Dalam situasi seperti ini, jurnalisme tidak boleh jinak. Wartawan dituntut lebih rajin keluar kandang, lebih berani bertanya, dan lebih keras menolak dikendalikan narasi pesanan.
Media bukan papan pengumuman, dan wartawan bukan juru baca pidato. Tugas pers adalah menghadirkan realitas yang sengaja ditutup, suara yang sengaja diabaikan, dan data yang sengaja disamarkan. Tahun baru harus menjadi momen memutus kebiasaan liputan malas, berita instan, dan kompromi yang dibungkus alasan “situasi”.
Kita juga harus jujur mengakui: banyak persoalan di sekitar kita luput diberitakan bukan karena tak ada, tetapi karena tak dicari. Konflik agraria, penyalahgunaan anggaran, layanan publik yang bobrok, hingga jeritan warga kecil sering kalah oleh berita seremonial yang mudah dan aman. Tahun baru menuntut keberpihakan yang lebih jelas.
Awak media harus kembali menjadikan lapangan sebagai guru utama. Duduk bersama warga, mendengar keluhan yang tak masuk konferensi pers, membaca dokumen yang sengaja dipersulit, dan menulis dengan keberanian. Jurnalisme yang hidup lahir dari kaki yang melangkah, bukan dari kursi yang nyaman.
Tahun baru juga berarti disiplin yang lebih keras di ruang redaksi. Verifikasi diperketat, sudut pandang diperdalam, dan kualitas tulisan ditingkatkan. Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi agar karya jurnalistik kembali dihormati, bukan dicurigai atau diremehkan.
Tahun baru bukan tahun lama. Ia adalah tantangan terbuka bagi awak media: bergerak atau ditinggalkan, mencari atau dilupakan, berpihak pada kebenaran atau larut dalam rutinitas. Sejarah pers tidak pernah mencatat mereka yang aman, tetapi selalu mengingat mereka yang berani.
(Didi Sukardi)