Defakto /Kolom – Ramadan tinggal menghitung hari. Rakyat mulai sibuk menabung untuk sahur, sementara sebagian pejabat sibuk menabung ucapan selamat. Biasanya mereka memulai dengan kalimat klasik: “Mari kita sambut Ramadan dengan kesederhanaan.” Kalimat yang terdengar lebih meyakinkan jika diucapkan oleh seseorang yang benar-benar sederhana, bukan oleh seseorang yang berbuka di hotel dengan harga paket yang cukup untuk menyambung hidup satu keluarga seminggu.
Menjelang puasa, rakyat biasanya fokus pada harga minyak, beras, dan telur. Pejabat fokus pada press conference. Rakyat berebut diskon di pasar, pejabat berebut panggung di media. Dua hiruk-pikuk yang sama-sama ramai, tapi tujuannya berbeda. Yang satu untuk bertahan hidup, yang satu untuk mempertahankan citra.
Hal paling lucu adalah ketika pejabat berkata harga bahan pokok “masih wajar”. Bagi rakyat, wajar itu artinya masih bisa dibeli. Bagi pejabat, wajar itu artinya masih bisa dijelaskan. Dua dunia yang beda, tapi dipaksa tampak sama. Kadang saya pikir, mungkin pejabat dan rakyat ini sebenarnya hidup di Indonesia yang berbeda. Yang satu Indonesia nyata, yang satu Indonesia yang ada di slide PowerPoint.
Di sudut pasar, seorang ibu mungkin berkata, “Kalau harga naik lagi, saya yang puasa duluan.” Itu ia sampaikan jauh sebelum Ramadan. Di sisi lain, pejabat mengatakan rakyat harus tetap optimis karena pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis. Anehnya, langkah strategis itu selalu terdengar jauh, sementara kenaikan harga selalu terasa dekat. Mungkin strateginya jalan kaki, sementara harga naiknya menggunakan sepeda motor.
Yang lebih menarik lagi adalah tradisi safari Ramadan. Pejabat berkeliling, menyampaikan pesan moral, dan memberikan bantuan yang jumlahnya sering kali lebih kecil daripada biaya rombongan yang mengantarnya. Tapi rakyat tetap menyambut. Bukan karena bantuan itu besar, tapi karena itulah satu-satunya momen pejabat tampak ingat bahwa rakyat masih ada.
Ramadan adalah bulan menahan diri. Tetapi banyak pejabat lebih ahli menahan jawaban daripada menahan nafsu berfoto. Mereka bisa menunda menjawab soal kenaikan harga, tapi tidak pernah menunda upload ketika sedang membagikan sembako. Rakyat belajar ikhlas dari kenyataan, pejabat belajar ikhlas dari kamera.
Namun mari adil sedikit. Tidak semua pejabat seperti itu. Ada yang benar-benar bekerja, meski biasanya jumlahnya tidak cukup banyak untuk mempengaruhi harga-harga. Tapi keberadaan mereka penting sebagai pengingat bahwa harapan belum sepenuhnya hilang, meski kadang harus dicari pakai kaca pembesar.
Ramadan sebentar lagi tiba. Rakyat akan kembali belajar menahan lapar dengan sabar. Pejabat akan kembali belajar menahan kritik dengan senyum. Dan pada akhirnya, semoga salah satu dari keduanya benar-benar belajar sesuatu.
Karena kalau rakyat bisa kuat menahan lapar tiga puluh hari, mestinya pejabat juga bisa kuat menahan kalimat “semua baik-baik saja” selama tiga puluh detik saja.
Didi Sukardi, Sekjend DPP PPRI.