Defakto — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Lapangan Kampung Pasir Menjul, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, berlangsung khidmat pada Sabtu malam. Acara yang sekaligus dirangkaikan dengan santunan yatim dan jompo ini dihadiri sedikitnya 500 orang dari warga sekitar serta tamu undangan.
Kegiatan dimulai pukul 19.30 dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan Qori Ust. Bunyamin. Setelah itu, sambutan disampaikan oleh H. Dadang selaku Ketua DKM, disusul H. Tb Enung Sutisna selaku Ketua Ormas Satria Banten yang menegaskan pentingnya teladan Rasulullah dalam membangun persaudaraan.
Pada pukul 20.20, acara memasuki sesi utama berupa santunan kepada 35 anak yatim dan janda dari wilayah sekitar. Prosesi ini berlangsung haru ketika para penerima santunan dipersilakan duduk di barisan paling depan sebagai bentuk penghormatan.setelah nya pemberian uang jajan kepada 250 anak anak di bawah umur 10 thn
Selanjutnya, tausiah pertama disampaikan oleh Arjuna Bogor, yang mengingatkan jamaah tentang makna kasih sayang Rasulullah kepada kaum yang lemah. Acara dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an kedua oleh Qori Ust. I’i Rahmanuddin.
Tausiah kedua dibawakan oleh Ki Dalang yang menekankan nilai keikhlasan dalam menolong sesama. Sementara tausiah ketiga sekaligus penutup disampaikan oleh Habib Hasan yang menyerukan agar umat Islam menjaga persatuan dan saling menguatkan.
Acara yang berlangsung hingga pukul 00.00 dini hari ini juga dihadiri pengurus dan anggota LBH Pendekar dari berbagai wilayah, serta sejumlah pengurus dan anggota Ormas Gempa dan ormas PPBNI satria banten, Suasana penuh kebersamaan tampak jelas dari awal hingga akhir kegiatan.
Direktur LBH Pendekar, Hendra Sudrajat, S.H., menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara. “Alhamdulillah peringatan Maulid kali ini selesai. Terima kasih tak terhingga kepada semua yang telah mendukung demi terlaksananya kegiatan ini,” ujarnya.
Hendra menekankan bahwa kemuliaan anak yatim dan jompo harus menjadi prioritas. “Tampak dalam gambar, yang dimuliakan selalu di depan adalah para yatim dan jompo. Warga lainnya, termasuk tokoh masyarakat, rela berada di belakang demi menghormati mereka. Ini bentuk cinta dan kasih sayang kita kepada kaum lemah,” katanya.
Menurutnya, seorang pendekar memiliki qodrat untuk membela yang lemah. “Sesuai takdirnya, pendekar itu hadir menjaga dan menjunjung tinggi harkat martabat kaum lemah terutama para yatim dan masyarakat yang tidak mampu untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rasanya kita dipanggil dan ditakdirkan untuk ada bersama mereka,” ujar Hendra. Ia menambahkan bahwa LBH Pendekar dan law firm pendekar nusantara yang masih kecil ini yang ia pimpin bertekad membangun kelompok besar demi masa depan bangsa.
Sementara itu, seorang tokoh masyarakat yang hadir namun enggan disebutkan namanya mengapresiasi acara tersebut. “Saya bangga, tapi jangan tulis nama saya ya. Yang jelas, kegiatan seperti ini harus terus dijaga semoga beliau ustadz Haidar panjang umur berkah dan sukses selalu dalam segala hal,” ucapnya. (DidiS)