Defakto /Opini – Dalam sistem geopolitik modern, perang tidak selalu dimaksudkan untuk dimenangkan. Ia kerap berfungsi sebagai instrumen tekanan, alat tawar dalam negosiasi kekuasaan global. Relasi Amerika Serikat dan Iran mencerminkan pola tersebut, eskalasi dijaga, konflik dipelihara, tetapi perang terbuka dihindari karena biayanya melampaui keuntungan strategis.
Amerika Serikat memiliki keunggulan militer yang tak terbantahkan atas Iran. Namun dalam kalkulasi geopolitik, superioritas senjata tidak otomatis berbanding lurus dengan kemenangan strategis. Serangan langsung terhadap Iran berpotensi mengguncang stabilitas sistem energi global, terutama di kawasan Teluk Persia yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Gangguan pada jalur ini akan berdampak luas, bukan hanya bagi lawan, tetapi juga bagi ekonomi Amerika dan sekutunya.
Selain faktor energi, sistem keamanan kawasan Timur Tengah juga menjadi pertimbangan utama. Konflik terbuka dengan Iran hampir pasti bersifat regional, melibatkan Israel, kelompok-kelompok bersenjata sekutu Iran, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis kepentingan Amerika. Dalam skenario tersebut, Amerika tidak hanya berhadapan dengan satu negara, melainkan dengan jaringan konflik yang sulit dikendalikan dan mahal untuk diselesaikan.
Dari sisi Iran, pendekatan yang diambil menunjukkan pemahaman yang sama terhadap struktur sistem internasional. Iran tidak beroperasi dalam logika perang konvensional cepat, melainkan dalam strategi daya tahan jangka panjang. Dengan mengandalkan pertahanan asimetris, pengaruh regional, serta kemampuan menciptakan ketidakpastian,
Iran berusaha menaikkan biaya setiap opsi militer terhadapnya. Dalam konteks ini, tujuan Iran bukan memenangkan perang, melainkan mencegahnya melalui kalkulasi kerugian lawan.
Ketegangan Iran–Amerika juga tidak berlangsung dalam ruang hampa. Sistem global memungkinkan aktor lain membaca dan memanfaatkan situasi. Cina dan Rusia, misalnya, tidak berkepentingan mendorong perang terbuka, tetapi diuntungkan oleh perhatian Amerika yang terserap di Timur Tengah.
Ketika fokus strategis Washington terpecah, ruang manuver kekuatan lain di kawasan dan sektor global lain justru melebar.
Dalam sistem seperti ini, konflik yang berlarut justru menjadi kondisi yang stabil. Industri pertahanan tetap bergerak, pasar energi bereaksi dengan fluktuasi terkendali, dan posisi tawar masing-masing aktor tetap terjaga. Perang yang tidak terjadi pun tetap menghasilkan konsekuensi ekonomi dan politik, tanpa harus melewati fase kehancuran total.
Bagi negara-negara di luar pusat konflik, termasuk Indonesia, ketegangan semacam ini menegaskan satu hal, geopolitik global bekerja melalui sistem saling keterkaitan. Kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian ekonomi adalah dampak tidak langsung dari konflik yang secara geografis jauh.
Netralitas menjadi sikap diplomatik yang rasional, tetapi tanpa pembacaan sistem global yang matang, ia berisiko menjadi posisi pasif.
Pada akhirnya, relasi Iran dan Amerika menunjukkan bahwa dalam geopolitik kontemporer, perang bukan sekadar soal keberanian atau kekuatan militer. Ia adalah hasil perhitungan sistemik tentang biaya, risiko, dan dampak jangka panjang. Selama perang terbuka tidak menawarkan keuntungan strategis yang sepadan, konflik itu akan tetap berada pada level ancaman,cukup panas untuk menekan, namun terlalu mahal untuk diwujudkan. (Tan Bagindo)