Defakto /Opini – Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York pada November 2025 bukan hanya kemenangan lokal, ini menjadi titik tolak konflik politik nasional. Donald Trump, mantan presiden dan figur berpengaruh di Partai Republik, secara vokal mengancam akan menahan pendanaan federal ke kota tersebut dan melontarkan berbagai serangan keras terhadap Mamdani, mulai dari tuduhan ideologi komunis hingga ancaman deportasi. Apa makna dari ancaman ini? Apa dampaknya terhadap pemerintahan kota New York dan hubungan dengan Washington?
Zohran Mamdani adalah anggota Majelis Negara Bagian New York dan sosialis demokrat muda.
Ia menjadi sosok progresif yang vokal soal isu-isu seperti pembekuan sewa, subsidi transportasi publik, dan toko grosir milik kota.
Pada pidato kemenangannya, Mamdani secara langsung menantang Trump: “Donald Trump, … ‘turn the volume up’.”
Donald Trump dan Motif Politik
Trump menyebut Mamdani sebagai “komunis” dan menyatakan bahwa jika Mamdani terpilih, kota New York hanya akan mendapatkan dana federal seminimal mungkin.
Ancaman bukan hanya finansial. Trump pernah mengancam akan “menangkap” Mamdani dan bahkan mendeportasinya jika Mamdani menolak operasi imigrasi dari ICE (Imigration and Customs Enforcement).
Selain itu, Trump meminta Mamdani “bersikap baik” terhadapnya setelah terpilih, karena menurut Trump ada banyak hal dari kota New York yang memerlukan persetujuan federal.
Analisis Ancaman Trump, Apa Sebetulnya yang Dipertaruhkan?
1. Tekanan Politik dan Finansial
Mengancam pemotongan dana federal adalah strategi klasik tekanan politik: Trump menggunakan kekuatan fiskal Gedung Putih sebagai kartu tawar terhadap pemerintahan kota, menegaskan bahwa dia memiliki leverage atas dana publik.
Namun, penting dicatat: meskipun presiden bisa berpengaruh, alokasi anggaran tidak sepenuhnya “tangan presiden”. Anggaran federal umumnya disetujui oleh Kongres, sehingga Trump tidak punya kendali mutlak untuk menarik semua dana secara sepihak.
2. Politik Ideologi & Polarisasi
Menyebut Mamdani sebagai “komunis” menunjukkan upaya Trump mengkaitkan sosialis progresif dengan radikalisme ideologis. Ini bukan hanya kampanye lokal; ini bagian dari narasi nasional tentang “sosialisme vs kebebasan” yang sangat kuat di politik AS.
Ancaman deportasi juga mengandung unsur xenofobia dan narasi anti-imigran: meskipun Mamdani sudah menjadi warga negara AS, Trump menggunakan isu kewarganegaraan untuk melemahkan kredibilitasnya.
3. Risiko Demokrasi Lokal
Jika ancaman Trump terealisasi, pemotongan dana bisa berdampak nyata pada layanan publik di New York (transportasi, sosial, perumahan). Ini bisa menghambat proyek-proyek yang menjadi janji kampanye Mamdani dan melemahkan legitimasi pemerintahan barunya.
Konflik semacam ini bisa menciptakan preseden berbahaya: pemimpin lokal yang tidak “sejalan” dengan presiden menghadapi tekanan fiskal yang bisa menghambat pemerintahan lokal.
4. Potensi Kedamaian Politik
Di sisi lain, laporan terbaru menyatakan Trump bersikap lebih lunak pasca kemenangan Mamdani: ia menyebut bisa “work something out” dengan wali kota terpilih.
Ini bisa menjadi sinyal pragmatisme: meski konflik keras selama kampanye, kedua pihak mungkin menemukan titik temu demi stabilitas dan efisiensi pemerintahan kota.
Konsekuensi dan Implikasi Lebih Lanjut
Bagi Mamdani, jika berhasil mempertahankan program progresifnya meski di bawah tekanan federal, kemenangan ini bisa menjadi simbol keberanian dan legitimasi sosialis progresif di kota besar. Namun, jika dana federal dipotong, bisa jadi hambatan besar untuk mewujudkan janji kampanye.
Bagi New York City, kota bisa jadi medan ujicoba kekuatan antara otoritas lokal dan federal di era post-Trump (atau era Trump kedua, tergantung konteks). Keberhasilan Mamdani bisa mendorong kota-kota lain untuk menantang kebijakan federal.
Bagi Politik Nasional AS, ancaman fiskal presiden terhadap pemerintahan lokal membuka diskusi soal pemisahan kekuasaan, desentralisasi, dan kontrol anggaran. Ini bisa menyulut debat lebih besar tentang sejauh mana presiden boleh menekan kota-kota yang berseberangan secara ideologi.
Ancaman Trump terhadap wali kota terpilih New York, Zohran Mamdani, bukan sekadar retorika politik, ini gambaran konflik struktural dan institusional antara kekuasaan federal dan kepemimpinan lokal.
Dibalik ancaman finansial dan imigrasi, tersimpan pertaruhan ideologis besar, apakah kota besar seperti New York bisa mengejar kebijakan progresif tanpa takut dihukum oleh pusat?
Kemenangan Mamdani menandai momen penting dalam politik Amerika, apakah dia bisa menunaikan janjinya tanpa digerus oleh tekanan dari Washington? Dan apakah Trump, di sisi lain, benar-benar mau “menahan uang” atau hanya menggunakan retorika untuk menakut-nakuti?
(Didi Sukardi- berbagai sumber)