Oleh : Didi Sukardi
DeFakto / Opini – Kematian Raya, balita tiga tahun dari Sukabumi yang tubuhnya dipenuhi cacing, bukan sekadar kisah pilu keluarga kecil di pelosok desa. Ini adalah potret buram wajah kesehatan kita. Lebih dari sekadar cerita duka, tragedi ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem perlindungan kesehatan bagi rakyat kecil.
Di satu sisi, negara mengklaim sudah membangun layanan kesehatan hingga pelosok. Ada puskesmas, posyandu, hingga program Jaminan Kesehatan Nasional. Tetapi kenyataannya, masih banyak keluarga yang tidak tersentuh informasi dan pelayanan. Endah, ibu sang bocah, dengan polos mengaku belum pernah membawa anaknya ke puskesmas. Selama ini, ia hanya mengandalkan ramuan tradisional. Apakah ini kesalahan si ibu? Atau justru kegagalan sistem yang tidak pernah benar-benar hadir untuk masyarakat?
Cacingan sejatinya penyakit yang bisa dicegah dan diobati dengan mudah. Obatnya murah, bahkan program pemerintah secara berkala membagikannya di sekolah dan posyandu. Namun mengapa seorang anak bisa meninggal dengan perut penuh cacing, sampai dokter menemukan cacing seberat satu kilo? Jawabannya jelas: ada jurang yang menganga antara program di atas kertas dengan realitas di lapangan.
Tragedi Raya harus menjadi tamparan keras. Kematian akibat cacingan di abad ke-21 ini bukan hanya soal kemiskinan, tapi juga soal abainya negara. Program kesehatan sering berhenti di papan baliho, rapat seremonial, atau laporan administrasi. Sementara di desa-desa, anak-anak masih bermain di tanah tanpa alas kaki, tumbuh tanpa asupan gizi, dan sakit tanpa pengobatan layak.
Kasus ini bukan pertama, dan bisa jadi bukan terakhir. Jika tidak ada perubahan nyata, nyawa anak-anak lain akan menjadi korban berikutnya. Pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan aparat desa harus berhenti berpura-pura. Edukasi kesehatan dasar harus menembus sampai pintu rumah. Posyandu tidak boleh hanya formalitas timbang badan, tetapi juga pintu pertama penyuluhan dan pencegahan penyakit.
Kita sedang berbicara tentang hak dasar anak: hak untuk hidup sehat. Jika seorang bocah kecil bisa meninggal hanya karena cacingan, maka kita patut bertanya, untuk siapa sebenarnya program kesehatan yang setiap tahun menghabiskan triliunan rupiah itu?
Raya telah pergi. Tetapi kematiannya adalah alarm yang seharusnya membangunkan nurani. Jangan biarkan ada “Raya-Raya” lain yang meregang nyawa hanya karena negara gagal hadir di tengah rakyatnya. (*)