DEFAKTO – KH Sofyan Tsauri, pimpinan Pondok Pesantren Al Bashori, Tamansari Kabupaten Bogor, menyebutkan bahwa ibadah umroh maupun haji bukan sekadar perjalanan spiritual biasa. Lebih dari itu, keduanya menjadi “cermin” untuk mengukur kualitas diri seorang muslim, sebab di tanah suci setiap orang akan berhadapan dengan kondisi nyata yang tidak bisa ditutupi.
Menurut KH Sofyan, ibadah umroh dan haji adalah bentuk simulasi hisab di dunia. “Di sana kita akan dihadapkan dengan hisab dunia yang dibuktikan secara nyata oleh Allah SWT,” ujarnya di hadapan para santri dan wali santri yang sedang berkunjung ke Ponpes tersebut, Ahad (14/9).
Maksudnya, lanjut pria yang akrab disapa Mama tersebut, setiap amal, perilaku, bahkan niat yang tersembunyi dalam hati akan diuji dengan situasi yang datang silih berganti sepanjang ibadah berlangsung.
Al-Qur’an sendiri, lanjut Mama, menegaskan bahwa ibadah haji adalah kewajiban agung yang sarat makna. “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS Ali Imran: 97). Ayat ini menjadi dasar bahwa perjalanan ke tanah suci bukan sekadar ibadah formalitas, melainkan jalan menguji kualitas iman.
Lebih jauh, Rasulullah SAW juga bersabda: “Siapa yang menunaikan haji lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti pada hari dilahirkan ibunya” (HR Bukhari dan Muslim). Hadist ini mempertegas bahwa ibadah haji — termasuk umroh — adalah momentum penghapusan dosa dan pembentukan akhlak baru, selama dikerjakan dengan hati yang bersih.
Namun, bagi sebagian orang, perjalanan ke tanah suci kerap dipandang sebatas kewajiban atau bahkan sekadar status sosial. KH Sofyan menekankan bahwa nilai sejati dari umroh dan haji adalah bagaimana ia membuka tabir diri seorang hamba di hadapan Tuhannya. Apakah hati tetap sabar ketika berdesakan di keramaian? Apakah lisan mampu terjaga dari keluh kesah meski tubuh letih di tengah ibadah?
Ibadah ini juga membongkar tabiat asli seseorang. Orang yang biasanya bersembunyi di balik pencitraan akan sulit menyembunyikan wataknya di hadapan jutaan jamaah dari berbagai bangsa. Kualitas kesabaran, keikhlasan, dan kerendahan hati akan terlihat jelas. Inilah yang dimaksud KH Sofyan sebagai “hisab dunia” yang diberikan secara nyata.
Opini ini penting diingat, terutama di tengah tren meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk berangkat umroh dan haji. Jumlah jamaah terus naik setiap tahun, tetapi ironisnya tidak sedikit yang kembali tanpa membawa perubahan berarti dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Rasulullah SAW juga menegaskan, “Umroh ke umroh berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga” (HR Bukhari dan Muslim).
Pada akhirnya, umroh dan haji sejatinya adalah perjalanan pulang ke dalam diri. Tempat seorang hamba bercermin, menimbang amalnya, dan menyadari bahwa setiap langkah di tanah haram adalah gambaran kecil dari perjalanan panjang menuju akhirat. Seperti diingatkan KH Sofyan, ibadah ini nyata, karena Allah SWT sendiri yang menghadirkan hisab dunia untuk menguji kualitas kita sebagai hamba-Nya.
(DidiS)