Defakto /Opini – Setiap kali kita melangkahkan kaki ke Puskesmas, seperti di Cijeruk ini, ada satu pemandangan yang hampir pasti: deretan wajah-wajah ibu dengan anak-anaknya. Ada yang menenangkan balita yang rewel, ada yang menggendong, ada pula yang dengan sabar menunggu giliran sambil menyeka peluh. Dan kita pun tahu, merekalah garda terdepan kesehatan keluarga.
Bukan tanpa alasan Puskesmas identik dengan kaum ibu. Dari imunisasi, posyandu, hingga layanan KB, hampir semua program kesehatan menyapa perempuan lebih dulu. Ibu lah yang mencatat jadwal imunisasi anak, mengingatkan asupan vitamin, dan memastikan pertumbuhan si kecil sesuai dengan grafik yang ditempel di dinding ruang tunggu.
Sementara para ayah sibuk bekerja mencari nafkah, para ibu justru berjibaku dengan antrean panjang dan suara tangis anak-anak. Mereka mungkin tidak duduk di kursi kekuasaan, tapi setiap hari merekalah “menteri kesehatan” sejati bagi keluarganya. Keputusan-keputusan kecil yang mereka ambil—membawa anak ke Puskesmas, menyiapkan obat, menjaga pola makan—sering kali menentukan masa depan kesehatan keluarga.
Pemandangan ibu-ibu di ruang tunggu Puskesmas sebenarnya adalah potret ketulusan. Di balik wajah letih, ada kesabaran yang jarang mendapat sorotan. Di balik tangan yang sibuk menenangkan anak, ada kasih sayang yang tak pernah dihitung-hitung. Dan di balik langkah mereka yang bolak-balik ke fasilitas kesehatan, ada perjuangan yang tak mengenal pamrih.
Maka sesungguhnya, keberadaan ibu-ibu di Puskesmas bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pengorbanan yang layak kita hormati. Sebab jika kesehatan adalah modal hidup, maka kaum ibulah yang paling gigih menabungkannya untuk keluarga. Tanpa banyak bicara, mereka menjaga agar generasi tetap tumbuh kuat.
Sudah saatnya kita menoleh sejenak, memberi apresiasi. Sebab di setiap kursi plastik ruang tunggu Puskesmas, ada ketabahan seorang ibu yang tengah memastikan: keluarganya baik-baik saja. (Nidiva)