Oleh : Hendra Sudrajat SH
Defakto – Affan Kurniawan, 21 tahun. Nama yang mungkin sebelumnya hanya dikenal di lingkaran keluarga dan rekan sesama driver ojek online. Tapi Kamis sore itu, namanya mendadak menjadi berita nasional, bukan karena prestasi, bukan karena karya, melainkan karena nyawanya melayang di jalan raya, terlindas kendaraan taktis (Rantis) Brimob yang mestinya bertugas menjaga ketertiban.
Pertanyaannya sederhana: sejak kapan ketertiban ditegakkan dengan menggilas rakyat kecil?
Affan bukan demonstran garis depan, bukan pula provokator. Ia hanyalah anak muda yang sedang mencari rezeki halal, menjemput orderan, menembus macetnya ibu kota. Tapi takdir berkata lain, ia bertemu dengan rantis yang melaju ugal-ugalan, menganggap jalanan ibukota seperti arena pertempuran. Affan pun menjadi korban.
Ironisnya, setelah menabrak, mobil itu sempat berhenti. Ada jeda. Ada kesempatan. Namun, ia justru kembali melaju, seolah nyawa manusia hanya kerikil di jalan. Bukankah itu sama saja dengan menegaskan: hidup rakyat kecil murah, bahkan lebih murah daripada ban kendaraan dinas negara?
Di sisi lain, Umar, rekan Affan, justru kritis karena diduga dianiaya aparat. Satu terlindas, satu dipukuli. Dua cerita tragis di hari yang sama. Maka wajar jika ribuan ojol bergerak, marah, dan hampir melampiaskan dendamnya di depan markas Brimob. Mereka bukan sekadar solidaritas profesi. Mereka adalah potret rakyat yang sudah jengah diperlakukan bak musuh negara.
Kita paham, polisi adalah garda depan keamanan. Tapi ketika alat negara berubah menjadi ancaman bagi rakyatnya sendiri, bukankah itu tanda ada yang sangat keliru? Apalagi bila nyawa melayang hanya dianggap “insiden”.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kini ditantang, bukan sekadar untuk mengusut tuntas, tetapi juga untuk membuktikan apakah Polri masih berpihak pada rakyat atau hanya pada kekuasaan. Affan memang tak punya jabatan. Ia bukan pejabat tinggi, bukan pula orang berpengaruh. Namun lihatlah bagaimana ribuan orang mengantarnya ke pemakaman, panjang, mengalir, melebihi pejabat sekalipun. Itu karena ada keikhlasan, ada cinta, ada penghormatan tulus yang tak bisa dibeli jabatan.
Mungkin benar, Affan pergi sebagai syahid, insyaAllah dimuliakan di sisi-Nya. Tapi kita yang hidup punya kewajiban melanjutkan: memastikan tragedi ini tak lagi terulang, memastikan aparat negara tak lagi menjadikan rakyat sebagai sasaran, memastikan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Karena bila negara terus membiarkan nyawa rakyat kecil tergilas begitu saja, maka jangan salahkan bila kelak rakyat yang menggulingkan ban-ban raksasa itu, bukan dengan batu, tapi dengan amarah yang tak terbendung.
Penulis : Hendra Sudrajat, S.H., Direktur LBH Pendekar