DEFAKTO – Fenomena perilaku impulsif semakin banyak ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pola konsumsi, interaksi sosial, hingga pengambilan keputusan di lingkungan kerja. Para ahli menilai tren ini perlu mendapat perhatian serius karena dapat memicu kerugian, baik bagi individu maupun orang di sekitarnya.
Menurut sejumlah psikolog, impulsif adalah tindakan yang muncul secara spontan tanpa pertimbangan yang matang. “Orang yang impulsif cenderung bergerak mengikuti dorongan sesaat. Mereka melakukan dulu, baru memikirkan akibatnya kemudian,” ujar salah satu psikolog klinis di Bogor, Selasa (19/11/2025).
Perilaku impulsif ini tidak hanya berdampak pada urusan pribadi, seperti belanja berlebihan atau ucapan yang menyakiti orang lain, tetapi juga merembet ke keputusan penting di organisasi, pemerintahan, dan dunia usaha. Kesalahan kecil akibat impulsivitas bisa berkembang menjadi masalah besar jika tidak dikendalikan.
Di lingkungan kerja, misalnya, keputusan impulsif sering memicu ketidakharmonisan antarkaryawan. Sejumlah kasus menunjukkan bahwa pimpinan yang tidak mampu mengontrol dorongan emosionalnya kerap mengeluarkan kebijakan sepihak yang justru merugikan instansi itu sendiri.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari, tindakan impulsif sering terlihat dalam penggunaan media sosial. Banyak pengguna yang terburu-buru menyebarkan informasi tanpa verifikasi, sehingga memicu kesalahpahaman hingga konflik. “Satu unggahan spontan bisa berdampak lebih besar daripada yang kita bayangkan,” ungkap pakar komunikasi digital yang dihubungi terpisah.
Para ahli juga menegaskan bahwa impulsivitas sering muncul saat seseorang berada dalam tekanan atau kondisi emosional tidak stabil. Situasi tersebut membuat seseorang sulit berpikir jernih. Karena itu, kontrol diri menjadi faktor penting dalam menekan perilaku impulsif.
Pemerhati sosial menyebutkan bahwa meningkatnya tekanan hidup, persaingan ekonomi, serta derasnya informasi digital turut memperbesar kecenderungan impulsif di masyarakat. Banyak orang merasa harus bergerak cepat, padahal tidak semua keputusan menuntut kecepatan.
Selain itu, perilaku impulsif dapat menimbulkan penyesalan mendalam. “Kita sering melihat kasus orang yang marah sesaat lalu melakukan kekerasan, atau membeli sesuatu demi memuaskan ego, kemudian menyesal. Pola ini menggambarkan betapa berbahayanya dorongan spontan yang tidak dikendalikan,” kata seorang konselor keluarga.
Pakar psikologi menyarankan agar masyarakat membiasakan diri dengan teknik pengendalian emosi seperti menarik napas panjang, menunda keputusan, dan melakukan refleksi singkat sebelum bertindak. Langkah sederhana itu diyakini mampu mengurangi risiko buruk dari tindakan impulsif.
Hingga kini, edukasi tentang kesadaran diri (self-awareness) dan manajemen emosi dinilai belum cukup masif. Banyak pihak berharap adanya kampanye khusus dari lembaga pendidikan, komunitas, hingga pemerintah untuk membantu masyarakat memahami bahaya impulsivitas dan pentingnya berpikir sebelum bertindak.
(Red, berbagai sumber)