Defakto – Suasana ruang kelas 9 di SMP IT Alexandria Cipayung – Kota Depok mendadak hening saat layar TV besar menampilkan adegan seorang anak laki-laki bernama Dani yang tiba terlambat dan mendapat peringatan dari gurunya.
Matanya polos, tubuhnya tegap, dengan tanggung jawabnya yang besar. Ia terlambat datang bukan malas apalagi asik bermain HP, melainkan harus merawat ayahnya terlebih dahulu karena sakit.
Film pendek dengan durasi 18 menit berjudul “Hormatku untuk Ayah” itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda di sekolah tersebut, Senin (28/10/2025). Tak banyak dialog dalam film itu, tapi setiap adegannya berbicara lantang tentang kasih, perjuangan, dan bakti seorang anak kepada orang tua.
Dalam kisah itu, sang anak bernama Dani hidup bersama ayahnya yang dulu bekerja sebagai pemulung. Kini, sang ayah jatuh sakit. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, anak itu membantu ayahnya, menyiapkan air, memberi makan, bahkan memapah tubuh ayahnya ke tempat tidur. Akibatnya, ia sering datang terlambat ke sekolah.
Namun, yang ia terima dari sekolah bukan pengertian. Ia sering dihukum karena terlambat, sering pula diejek teman-temannya karena kerap datang terlambat. Tak ada yang tahu, di balik tawa kecilnya, tersimpan beban hidup yang jauh lebih besar dari usianya.
Saat Jam istirahat sekolah, anak itu tidak bermain. Ia membantu tukang bakso mencuci piring. Sepulang sekolah, ia mengumpulkan botol bekas dan kardus, lalu menjualnya untuk membeli obat. Malam hari, ia masih sempat menatap wajah ayahnya yang terbaring lemah sambil berdoa dalam diam. Sederhana, tapi penuh cinta yang tak terucapkan.
Hingga akhirnya, pada satu adegan yang paling mengoyak hati, sang ayah mengembuskan napas terakhir. Anak itu menceritakannya di ruang kelas sambil menangis, bukan hanya karena kehilangan, tapi karena merasa belum sempat membahagiakan orang yang paling ia cintai. Seketika, semua siswa menunduk, dan larut dalam kesedihan serta ikut menangis mengeluarkan air mata.
Sepulang sekolah, di kediamannya, Putri Saha Naya, seorang siswi kelas 9 SMP IT Alexandria menceritakan kepada sang ayah dan mengatakannya jalan cerita film yang ia tonton di sekolah bersama teman dan para guru.
Film “Hormatku untuk Ayah” bukan sekadar tontonan, tapi pengingat tentang makna sejati Sumpah Pemuda: tentang perjuangan, kasih, dan tanggung jawab. Bahwa menjadi muda bukan hanya soal semangat dan cita-cita besar, tapi juga keberanian untuk berbakti meski dalam kesederhanaan.
Pemutaran film di sekolah yang beralamat si Jl. Elang I Lembah Griya Indah No.85, RT.002/RW.7, Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok tersebut, juga diikuti oleh para guru diantaranya pak Windy Pranata, pak Sidqi achmad fauzan, pak Rizki fadillah, bu Indah Yuniar, pak Zul fakhri, bu Masnuatul bararah, pak Jumen, bu Maria Ulfa, pak Amrin. (Erik)