Defakkto – Ada yang lebih hangat dari kopi hitam di pagi hari, itulah suasana Grup WhatsApp Ki Zakaria. Di sanalah, sekumpulan kepala yang berbeda isi namun satu hati bertemu setiap hari, bukan di warung kopi, tapi di layar-layar ponsel yang selalu bergetar tanpa izin waktu. Grup ini bukan sekadar ruang obrolan, tapi semacam rumah digital tempat saudara-saudara berkelakar, berdiskusi, bahkan berdebat dengan gaya khas keluarga besar: santai tapi bermakna.
Mereka memanggil satu sama lain dengan panggilan akrab, seolah masa kecil belum pernah usai. Kadang serius, kadang konyol. Kadang membahas hal penting seperti urusan masyarakat, tapi lima menit kemudian sudah berganti topik: resep sambal atau gosip harga beras di pasar. Namun begitulah keluarga, logika sering kalah oleh rasa nyaman.
Di tengah perbedaan pendapat, justru terlihat betapa erat tali yang mengikat. Satu kepala bicara tentang politik, kepala lain menyela dengan pantun. Satu menanggapi dengan ayat, yang lain membalas dengan emotikon tertawa. Tapi anehnya, tak ada yang benar-benar marah. Karena di balik semua itu ada rasa saling sayang, yang tak bisa dibungkus kata, hanya terasa dalam keakraban yang tak dibuat-buat.
Persaudaraan di grup itu ibarat soto di warung kampung, ramai isi tapi tetap satu mangkuk. Kadang asin, kadang pedas, tapi selalu bikin kangen. Beda bumbu, beda selera, tapi semua tahu: tanpa yang satu, rasanya tak lengkap. Begitulah mereka, keluarga virtual yang nyata di hati.
Namun jangan salah, di balik canda itu sering terselip renungan. Saat membahas “masalah umum dan khusus”, nada bicara bisa berubah, seolah grup keluarga ini menjelma menjadi forum rembug nasional mini. Semua serius, tapi tetap dibungkus tawa. Sebab mereka tahu, hidup terlalu singkat untuk dibawa tegang terus-menerus.
Lucunya, tiap kali suasana mulai memanas, selalu ada satu dua anggota yang tiba-tiba mengirim stiker lucu atau gambar kopi, seolah berkata: “Udah ah, damai dulu. Kopi yuk.” Dan seperti biasa, semua kembali cair. Tanda bahwa mereka sudah lebih dewasa dari yang mereka kira, karena mampu menertawakan perbedaan.
Kini, grup Ki Zakaria bukan lagi sekadar tempat berbagi kabar, tapi ruang nostalgia yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan harapan untuk tetap bersama. Dari sana, kita belajar: darah boleh tak sama, tapi rasa sayang bisa diwariskan tanpa garis keturunan.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Apa resep awetnya kebersamaan itu?” Jawabannya mungkin sederhana: jangan terlalu sering debat, tapi jangan juga terlalu kaku. Kadang cukup saling kirim salam, emotikon, dan doa di sela kesibukan. Karena sejatinya, keluarga itu bukan tentang seberapa sering kita bertemu, tapi seberapa tulus kita mengingat satu sama lain. (DidiS)