Defakto – Tidak semua kebijakan akan dianggap baik dan benar oleh sebagian orang. Namun bagi Hendra Sudrajat, SH., Panglima Ormas Gempa, kepemimpinan sejati justru diuji saat harus mengambil keputusan yang pahit dan tidak populer. Ia menegaskan, demi perbaikan organisasi maupun kehidupan berbangsa, seorang pemimpin harus memiliki keberanian untuk bersikap tegas tanpa pandang bulu.
Menurutnya, keberanian itu bukan berarti mengabaikan aspirasi. Justru, ketegasan harus dilandasi niat untuk membenahi, bukan untuk menjatuhkan. “Kalau seorang pemimpin hanya takut tidak disukai, maka tidak akan ada langkah maju. Kepemimpinan itu amanah, dan amanah tidak boleh dikorbankan demi kepentingan pribadi,” ujarnya, Rabu (2/10).
Hendra menilai, dalam kondisi organisasi maupun pemerintahan yang sering diwarnai tarik-menarik kepentingan, ketegasan seorang leader menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa itu, roda gerakan akan lumpuh. Namun ia menekankan, ketegasan bukan berarti otoriter. Musyawarah tetap menjadi prinsip utama dalam setiap pengambilan keputusan.
Baginya, musyawarah adalah ruh dari kebersamaan. Tanpa musyawarah, tegasnya seorang pemimpin akan berubah menjadi keangkuhan. “Kita boleh tegas, tapi jangan merasa paling benar. Kita harus membuka ruang diskusi agar kebijakan yang diambil punya legitimasi moral dan diterima secara kolektif,” kata Panglima Ormas Gempa itu.
Dalam pandangan Hendra, sikap tegas dan musyawarah harus berjalan seimbang. Ketika ada persoalan yang berlarut-larut, pemimpin harus berani mengetuk palu akhir. Namun proses menuju keputusan itu tetap harus mengakomodasi pendapat sebanyak mungkin. “Itulah seni dalam memimpin: meramu ketegasan dan musyawarah,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa sikap tegas tanpa pandang bulu adalah kunci untuk menjaga keadilan. Bila pemimpin mulai pilih kasih, maka kepercayaan dari para anggota akan runtuh. “Ketegasan itu tidak boleh melihat siapa orangnya, tapi apa persoalannya. Dengan begitu, semua akan merasa bahwa aturan berlaku adil,” ucapnya.
Lebih jauh, Hendra mengajak seluruh pengurus dan anggota Ormas Gempa agar terus menjaga prinsip kepemimpinan yang lurus. Ia menilai, organisasi hanya akan kuat jika dijalankan dengan sikap konsisten: berani, adil, dan bermusyawarah. Tanpa itu, ormas akan mudah terpecah dan kehilangan arah.
“Gempa harus jadi contoh bahwa ormas bisa solid karena dipimpin dengan ketegasan yang berkeadilan, tapi tetap mengedepankan musyawarah. Jangan takut tidak disukai, karena tujuan kita adalah perbaikan. Pemimpin bukan untuk mencari nyaman, tapi untuk membawa perubahan,” pungkasnya. (DidiS)